Banda: Overproduced Unwatchable Nightmare Trailers

it just seemed to go on and on. It was an hour and a half of unwatchable nightmare trailers. Essentially like somebody with a short attention span

Nukilan di atas merupakan tanggapan Banksy atas ‘dokumenter’ buatan Thierry Guetta berjudul Life Remote Control dalam filmnya Exit Through The Gift Shop. Guetta, seorang Perancis yang rajin mengabadikan kegiatan seni grafis di tembok-tembok kota Los Angeles, ditodong untuk membuat film dokumenter setelah dirasa sudah cukup banyak merekam.

Di luar dugaan, ‘film dokumenter’ yang ia buat dari limpahan materi tak terbatas ini hanya berisi hal-hal acak yang digabung menjadi satu berbuah karya psychedelic: shot-shot pendek yang dipercepat atau diperlambat, diramaikan musik dan efek suara yang mengganggu.

Karya ‘seni’ Guetta yang tidak memenuhi unsur dokumenter tersebut bisa dimaklumi mengingat latar belakang keamatirannya. Di samping kenyataan bahwa sesungguhnya dia hanya ingin nongkrong bersama para seniman mural sehingga harus mengaku-ngaku sebagai pembuat film dokumenter agar tidak diusir dan dilarang merekam.

Lanjutkan membaca “Banda: Overproduced Unwatchable Nightmare Trailers”

Iklan

Surat Terbuka dari Mario Teluh untuk YTH Netizen

Salam super, pembaca blog buangwaktupercuma yang tidak seberapa jumlahnya ini. Perkenalkan saya Mario Teluh, sehari-hari saya bekerja di sebuah Bank multinasional terkemuka, pada waktu senggang, saya memimpin sebuah kelas Yoga di dekat tempat tinggal saya di Ubud, Bali. Saya amat menyukai tampil dan berbicara di depan banyak orang, sehingga seringkali terpikir untuk menjadi motivator profesional, guru spiritual dan bermain film aksi seperti Aa gatot.

Tulisan ini lahir dari kejengahan saya atas pelbagai macam tuduhan yang sama sekali tidak benar tentang kehidupan pribadi saya. Serangan yang membabi-buta ini meneror lewat segala penjuru saluran informasi yang bahkan dampaknya membahayakan keselamatan saya dan keluarga.

Pembaca blog BWP yang super, melalui surat curhat terbuka ini, izinkan saya, seorang suami dan bapak yang begitu mencintai dan sangat concern pada keluarganya, melakukan klarifikasi terhadap beberapa berita tidak benar yang selama beberapa bulan terakhir santer didengung-dengungkan.

Saya Mario Teluh, 60 tahun, tidak pernah mempunyai anak dari pernikahan lain di luar hubungan dengan Karyani, perempuan yang terus bersama sejak saya menikahinya tahun 1984. Saya hanya pernah menikah satu kali, yaitu dengan perempuan ini, yang kemudian menjadi ibu dari seorang putra yang amat saya banggakan, Seminar, yang kini genap berusia 30 tahun.

Lanjutkan membaca “Surat Terbuka dari Mario Teluh untuk YTH Netizen”

Ekonomi Receh: Tipu-Rayu Popcorn

head.png

Dan Ariely, profesor Psikologi dan Behavioral Economics, perkawinan ilmu ekonomi dan psikologi tentang bagaimana pengambilan keputusan ekonomi sangat dipengaruhi keadaan psikis, dalam bukunya Predictably Irrational, menjelaskan betapa sering kita melakukan keputusan yang irasional saat berbelanja di saat justru kita hati-hati menimbang aspek ekonominya.

Manusia modern, dengan segala informasi yang dapat direngkuh sejarak ibu jari, menggunakan data-data dalam mempertimbangkan keputusan berbelanja dengan harapan berhasil mengakali korporasi atas keberhasilan memilih pilihan yang paling ekonomis: paling murah, paling menang banyak.

Apesnya, korporasi memahami betul sifat kita yang memet/pelit/ekonomis/rasionalis ini. Angka-angka dalam harga dan takaran porsi dimainkan demi hasrat ekonomis kita yang mudah tergugah pada insentif keberhasilan memilih alternatif terbaik. Lanjutkan membaca “Ekonomi Receh: Tipu-Rayu Popcorn”

Kuasa

kuasa.png

Umur saya baru sekitar 10 tahun saat ibu memarahi saya yang keranjingan nonton TV, “Ini (menunjuk ke tv) benda mati, kamu makhluk hidup (sambil menunjuk tempurung kepala saya), punya akal sehat. Jangan biarkan kamu yang diatur untuk nonton dia, kamu yang punya kuasa, jangan mau terikat pada hal-hal yang tidak membangun”.

Sumpah, dia memang benar-benar bilang begitu.

Perkataan yang baru saya mengerti beberapa tahun setelahnya itu pun kembali terlontar ketika saya ketahuan mampir ke rental playstation dan sekali lagi, sekitar tiga tahun selanjutnya, ketika ketahuan merokok untuk pertama kalinya. Lanjutkan membaca “Kuasa”

Polisi dan Perjuangannya Melawan Kriminalitas: Bagian 1, Maling.

api.png

Ibu saya pernah cerita, sewaktu saya masih kecil, sangat kecil sampai belum mampu mengingat, kami berdua pergi dengan bus kota yang kemudian ditumpangi seorang anggota polisi. Seketika saya mengenali seragamnya, saya lantas panik memperingatkan ibu ‘bu, tuh ada polisi tuh bu, iih, tuh liat-liat deh, ada polisi iiih’ dengan intonasi yang menunjukkan ketidaksukaan dan rasa jijik. Mengenali tingkah laku saya tersebut, pak polisi tersebut menghampiri kami dan menyapa ramah, mengajak berbincang soal hal-hal remeh.

Ibu menyalahkan bapak yang terlalu aktif menggalakan kampanye hitam terhadap korps tersebut di dalam rumah. Kepada saya yang masih sangat kecil, Bapak memperkenalkan polisi dan atribut yang ia sematkan pada mereka sebagaimana orang tua lain menunjukkan kartu bergambar hewan dan jumlah kakinya.

Perkenalan bapak dengan polisi bisa dibilang terlambat karena di desa kecil di kabupaten Klaten tempatnya lahir dan besar, sangat jarang ada polisi seliweran. Maka perjumpaan mereka pertama kali terjadi di Jakarta, Kota dimana ia menjadi mahasiswa sekaligus pentolan suatu unit kegiatan mahasiswa, sementara polisi selalu berdiri di sisi yang berlawanan dengannya. Lanjutkan membaca “Polisi dan Perjuangannya Melawan Kriminalitas: Bagian 1, Maling.”

Stop Memberi Uang Pada Pengemis

Beberapa bulan yang lalu, seseorang dengan akun twitter personalnya mengunggah foto yang diCC-kan ke akun seputar info terkini kota Bandung. Cuitan tersebut mengundang ratusan orang untuk berkomentar, sebagian besar dari mereka mengutuk dan sebagian lainnya menceritakan pengalamannya menemui fenomena yang mirip dengan apa yang digambarkan foto tersebut.

Tidak ada yang spesial menurut saya soal foto tersebut: seorang perempuan berusia sekitar 30an mengoprasikan tablet merk Cina, tidak jauh darinya, dua orang laki-laki duduk sambil merokok. Tiga orang dewasa tengah beristirahat, menjauhi terik matahari dengan berlindung di bawah pepohonan.

Ini merupakan hal yang biasa, jika mengacu pada data statistik yang mengemukakan bahwa lebih dari 70% pria dewasa merupakan perokok aktif. Begitu juga soal tablet yang digeletakan sembarang, tidak aneh juga jika melihat harga tabletnya yang super murah, sampai rasa-rasanya mustahil bisa diproduksi pada level harga segitu  tanpa melanggar hukum ketenagakerjaan.

Saya yakin anda pasti sering mendapati kombinasi seperti itu di restoran atau kafe dimana pun anda berada: beberapa orang sedang hangout, ada yang main hape, dan ada yang merokok. Anda tidak akan repot2 mengunggah foto mereka di media sosial, tapi hal ini teryata menjadi berbeda, ketika mereka yang sedang hangout adalah pengemis. Lanjutkan membaca “Stop Memberi Uang Pada Pengemis”